Senin, 14 Mei 2012

Mgr. Petrus Noyen, SVD


Lahir pada tanggal 3 September tahun 1870 dalam sebuah keluarga kelas menengah di Helmond, Belanda. Tahun 1883 ia bergabung dan belajar di seminari menengah SVD di Stejl. Walau tempat ini ada di Belanda, tetapi seluruh hidup lembaga itu bercorak Jerman. Setelah menyelesaikan Novisiatnya ia melanjutkan belajarnya di filsafat dan Teologi hingga tahbisan pada tanggal 7 Desember 1893. Tahun berikut setelah tahbisannya ia berangkat ke Cina dan bekerja di Shantung hingga tahun 1909. Ia bekerja selama 15 tahun di misi Cina. Tahun 1909 ia diangkat sebagai Rektor pertama seminari SVD di Uden. Tujuan dari lembaga ini adalah untuk melatih para calon imam SVD supaya bekerja di misi koloni Belanda.
P. Noyen berkeliling di seluruh negeri Belanda untuk merekrut calon-calon Seminari.  Pada tanggal 7 Desember tahun 1912 ia diangkat untuk memimpin misi koloni Belanda di kepulauan Sunda kecil. Ia tiba di Batavia pada tanggal 4 Januari 1913 dan berlayar ke Timor bulan itu juga. Tanggal 20 Januari 1913 ia tiba di Timor dan pada saat yang sama juga P. Vander Putten,SJ meninggalkan Timor. Tanggal 1 Maret 1913, terjadi acara penyerahan misi geraja Katolik Timor dari Serikat Jesuit yang di wakili Pastor Mathjisen SJ (pemimpin misi Timor di kala itu) kepada pihak misionaris Serikat Sabda Allah (SVD = Societas Verbi Divini) yang diwakili Pater Petrus Noyer SVD. Tanggal 27 Mei 1913, P. A. Mathijsen SJ meninggalkan Timor sebagai misionaris Jesuit terakhir sesudah dia menyerahkan misi pulau Timor, bagian Belanda ke dalam tangan tenaga-tenaga Serikat Sabda Allah (SVD). Tanggal 16 September 1913 Kepulauan Nusa Tenggara dipisahkan Takhta Suci dari daerah Vikariat Apostolis Nederland Indie, dijadikan daerah Gerejani tersendiri dengan nama APOSTOLICA PREFEKTURA INSULAE SUNDA MINORES (Perfektur Apostolik Sunda Kecil), yang meliputi Timor, Lombok, Sumba, Sumbawa, dan Bali. Tanggal 8 Oktober 1913, P. Piet Noyen Noyen SVD diangkat sebagai Prefektur Apostolik Sunda Kecil yang berkedudukan di Timor: Atapupu, Lahurus, Halilulik. Bulan Februari 1914 P. Frans de Lange dikirim ke Tubaki dan P. Piet Noyen menemaninya selama tiga minggu pertama. Rencana P. Piet Noyen waktu itu adalah membangun sebuah perkampungan Kristen yang terpusat di sekolah dan Gereja, yang dibiayai dari sebuah perkebunan yang akan dikerjakan oleh penduduk setempat dibawah bimbingan para bruder SVD. Walau permintaan ini kemudian tidak dikabulkan karena terlalu besar rencana perkebunannya, P. Piet Noyen terus menulis surat permohonan hingga akhirnya dikabulkan untuk ukuran 36 hektar. Kebun ini bertujuan sebagai pemasok bahan makanan bagi pos misi dan untuk tujuan pendidikan. Perkebunan yang dikelola Br. Callixtus Osterholt ini kemudian gagal karena tidak menyediaakan bibit yang bagus sehingga sampai tahun 1919 pun belum menghasilkan apa-apa. Tanggal 14 Mei 1915, Mgr. Noyen, pindah secara resmi dari Lahurus ke Ende. Dengan perpindahan ini maka pusat Perfektur Apostolik Sunda Kecil pun pindah ke Ndona, Ende. Setelah kedatagannya ke sana, ia memutuskan bahwa Ende harus menjadi pusat misi utama demi mengekang expansi islam. P. Piet Noyen adalah seorang yang ambisius dan dinamis. Ia menulis ratusan pucuk surat ke Eropa meminta lebih banyak personel dan uang. Ia juga bersemangat untuk menjelajahi wilayah misi yang dipercayakan kepadanya, dari ujung Timor hingga ke Bali. Mgr.Piet Noyen, SVD meninggal pada tanggal 24 Februari, 1921, tepat pada hari di mana ia hendak ditahbiska menjadi uskup. Ia meninggal akibat disentri yang diderita lama sebelumnya.
Piet Noyen adalah seorang arsitek misi yang besar. Pengalamannya selama 15 tahun bekerja di misi Cina membuatnya pandai merancang strategi misi yang tepat untuk kepulauan Sunda Kecil. Strategi misi sebelumnya yang selalu bekerja sama dengan para penguasa tradisional (raja, fetor dll) dan mendirikan Gereja di pusat kerajaan diubah oleh Piet Noyen. Ia menghendaki sebuah misi yang berpusat pada kaum muda dan sekolah. Berdasarkan cita-cita ini maka pusat-pusat misi mulai berpindah dari pusat-pusat kerajaan ke tempat yang lebih strategis, seperti pusat misi Timor berpindah dari Lahurus ke Halilulik. Di Ende, Ndona menjadi pusat misi yang baru. Di tempat baru itu pun sekolah didirikan, sehingga misi mendapat dukungan baik dari para guru maupun para siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Content